12 - May - 2026

Malam Paling Romantis di Asia Saat Ribuan Lentera Menari di Atas Sungai Hoi An

Halo, para pencari keindahan yang tak lekang waktu!

Kembali lagi di blog travel kesayangan kita. Setelah kita menjelajahi teluk batu kapur di Ha Long, hiruk-pikuk Hanoi, dan sawah terasering Sapa yang menakjubkan, kini saatnya kita mundur ke masa lalu—ke kota di mana waktu seolah berhenti berdetak.

Selamat datang di Hoi An Ancient Town, kota kuno paling memesona di Vietnam, bahkan mungkin di Asia Tenggara.

Saya punya satu pertanyaan untuk Anda. Pernahkah Anda membayangkan berjalan di jalanan yang diterangi ribuan lentera warna-warni, di samping sungai yang dipenuhi perahu-perahu kecil dengan lilin mengambang, sambil mendengar alunan musik tradisional dari kejauhan?

Itulah Hoi An di malam hari. Tapi percayalah, keajaiban kota ini tidak berhenti saat matahari terbenam. Mari luangkan waktu sejenak, siapkan secangkir kopi, dan biarkan saya membawa Anda berjalan-jalan di kota yang dijuluki “Kota Lentera” ini.

Mengapa Hoi An Bukan Sekadar Kota Tua Biasa?

Coba bayangkan ini. Sebuah kota pelabuhan yang didirikan pada abad ke-15 (sekitar tahun 1470-an, saat Columbus mungkin masih bermimpi menemukan dunia baru). Selama berabad-abad, Hoi An adalah pusat perdagangan maritim tersibuk di Asia Tenggara.

Para saudagar dari Jepang, China, Belanda, Portugal, India, dan bahkan Arab berlabuh di sini untuk berdagang sutra, rempah-rempah, keramik, dan kayu berharga. Hasilnya? Arsitektur yang sangat unik—perpaduan sempurna antara rumah tradisional Vietnam, aula pertemuan China, dan jembatan khas Jepang.

Tapi inilah yang membuat Hoi An benar-benar istimewa. Ketika Sungai Thu Bon mulai mendangkal pada abad ke-19 dan pelabuhan berpindah ke Da Nang, kota ini tidak dihancurkan atau dibangun ulang. Justru, ia tertidur selama hampir 200 tahun.

Akibatnya, lebih dari 800 bangunan kuno tetap berdiri persis seperti aslinya—tanpa sentuhan modern yang merusak. Tidak seperti kota tua lain yang hanya “replika” untuk turis, Hoi An adalah kota sungguhan yang masih dihuni, masih bernapas, dan masih hidup.

UNESCO mengakuinya pada tahun 1999 sebagai Warisan Dunia. Dan setelah Anda menginjakkan kaki di sana, Anda akan paham mengapa.

4 Pengalaman yang Wajib Masuk Daftar Impian Anda

1. Jalan-jalan Malam di Kota Lentera — Magis yang Tidak Bisa Difoto, Harus Dirasakan

Saya sudah membaca puluhan artikel dan melihat ribuan foto Hoi An sebelum datang. Tapi tidak ada yang mempersiapkan saya pada perasaan ketika lentera mulai menyala satu per satu saat senja tiba.

Setiap hari sekitar jam 5 sore, saat matahari mulai tenggelam di balik atap-atap tua, lampu-lampu listrik di jalanan mulai diredupkan—dan digantikan oleh ribuan lentera sutra berwarna merah, kuning, biru, ungu, dan hijau yang bergantungan di atap toko, di seberang sungai, bahkan di perahu-perahu kecil.

Nguyen Thai Hoc Street dan Tran Phu Street adalah jantung dari keajaiban ini. Berjalanlah perlahan. Rasakan cobblestone di bawah kaki Anda. Hirup aroma dupa dari klenteng-klenteng tua. Dan sesekali, berhentilah untuk mendengarkan musik tradisional yang mengalir dari rumah-rumah tua yang dijadikan galeri seni.

Dan jangan lupa. Bawa kamera dengan mode malam yang bagus. Anda akan berterima kasih pada diri sendiri nanti.

2. Melepaskan Lentera di Sungai Thu Bon — Bukan Sekadar Tradisi Turis

Sepanjang sungai di sepanjang Bach Dang Street, Anda akan melihat wanita-wanita tua duduk di perahu kayu kecil menjual lentera kertas mini dengan lilin di tengahnya. Hanya sekitar 5.000-10.000 VND (Rp 3.000-6.000) per lentera.

Caranya mudah. Letakkan lentera di telapak tangan, nyalakan lilin, pejamkan mata, buat satu permintaan, lalu lepaskan perlahan ke air. Ratusan lentera lain akan mengapung di sekitar Anda—merah, merah muda, biru, kuning—menciptakan lautan cahaya kecil di atas sungai yang gelap.

Apakah ini sekadar atraksi turis? Mungkin sedikit. Tapi bagi penduduk lokal, melepaskan lentera adalah simbol melepaskan kesedihan dan berdoa untuk keberuntungan. Jadi lakukan dengan sungguh-sungguh. Siapa tahu permintaan Anda dikabulkan.

3. Japanese Covered Bridge (Chua Cau) — Ikon yang Tidak Boleh Dilewatkan

Anda belum ke Hoi An jika belum berfoto di sini. Japanese Covered Bridge adalah jembatan tertutup berusia lebih dari 400 tahun (dibangun sekitar tahun 1590-an oleh komunitas Jepang) yang menghubungkan daerah pemukiman Jepang dan China.

Di atas pintu masuk jembatan, ada patung anjing dan kera—yang menurut legenda adalah hewan yang dipanggil oleh kaisar Jepang saat memerintahkan pembangunan jembatan, karena tahun pembangunannya jatuh pada tahun Anjing dan Kera dalam kalender Jepang.

Tips foto terbaik:

  • Pagi buta (sebelum jam 7 pagi) —hampir tidak ada orang, cahaya keemasan dari timur menerpa jembatan, dan Anda bisa dapat foto tanpa turis lain.
  • Malam hari —lentera di sekitar jembatan menyala, menciptakan suasana romantis yang luar biasa.

Catatan. Anda perlu membeli tiket masuk untuk mengunjungi jembatan dan rumah-rumah tua di sekitarnya (sekitar 120.000 VND / Rp 75.000 untuk tiket kombo ke 5 atraksi).

4. Belanja Sutra, Kerajinan Tangan, dan… Jasa Tailor Kelas Dunia!

Hoi An terkenal sebagai surga menjahit secepat kilat. Ingin jas, gaun pesta, setelan kantor, atau mantel musim dingin? Datanglah pagi, pilih model, ukur badan, dan besok pagi sudah jadi.

Harganya sangat bersaing:

  • Setelan jas pria (wool): ~1,5-2,5 juta rupiah
  • Gaun wanita (sutra): ~500 ribu – 1 juta rupiah
  • Mantel musim dingin: ~800 ribu – 1,5 juta rupiah

Penjahit terpercaya (berdasarkan review traveler):

  • Yaly Couture (paling terkenal, kualitas premium, harga lebih tinggi)
  • Bebe Tailor (kualitas sangat baik, harga menengah)
  • Kimmy Tailor (favorit backpacker, harga ramah kantong)

Tips penting:

  • Jangan tergiur harga terlalu murah — kain bisa jelek, jahitan renggang
  • Bawa foto model yang Anda inginkan dari Pinterest
  • Lakukan pemesanan di hari pertama agar punya waktu untuk fitting dan revisi

Kuliner yang Membuat Lidah Bergoyang

Hoi An bukan hanya indah untuk mata, tapi juga untuk perut. Ini 3 hidangan yang wajib Anda coba:

1. Cao Lau — Mi yang Hanya Ada di Hoi An

Cao Lau adalah mi khas Hoi An yang tidak bisa ditemukan di tempat lain di dunia. Mengapa? Karena mie-nya dibuat dari abu kayu dari pohon di pulau Cham (sekitar 40 km dari Hoi An), dan airnya harus dari sumur tua Ba Le—yang konon hanya ada di Hoi An.

Rasanya? Tekstur mi tebal, kenyal seperti mie, tapi lebih kasar. Disajikan dengan irisan daging babi, kerupuk, tauge, dan sayuran hijau dengan sedikit kuah kental. Tempat terbaik Cao Lau Ba Le (jalan Le Dinh Tham) atau Cao Lau 49 (jalan Tran Phu).

2. White Rose (Banh Bao Banh Vac) — Pangsit Sutra Seindah Namanya

Sekilas mirip dim sum, tapi berbeda. White Rose adalah pangsit udang dengan kulit tepung beras yang tipis bening—sehingga udang di dalamnya terlihat dari luar, seperti mawar putih yang mekar.

Dalam satu porsi, Anda akan mendapat 2 jenis yang berbentuk bundar (isi udang utuh) dan yang seperti bunga (isi daging udang cincang). Tempat terbaik White Rose Restaurant (jalan Hai Ba Trung)—satu-satunya tempat yang memproduksi White Rose untuk seluruh Hoi An. Keluarga ini sudah membuatnya selama 5 generasi !

3. Mot (Herbal Water) — Minuman Sehat yang Menyegarkan

Setelah seharian berjalan di panasnya Hoi An, Anda akan bertemu banyak ibu-ibu di pinggir jalan dengan termos besar berwarna merah. Itulah Mot—minuman dari akar-akaran, jahe, jeruk, dan madu. Rasanya manis, sedikit pedas jahe, dan dingin menyegarkan.

Hanya 5.000-10.000 VND (Rp 3.000-6.000) per gelas. Dan konon, bisa menyembuhkan masuk angin. Saya coba sendiri—setelah 2 gelas, tenggorokan yang mulai gatal hilang. Entah sugesti atau benar, yang pasti enak!

Dari Mana Asal Nama “Hoi An”? Sedikit Cerita Sejarah

Nama resmi kota ini adalah Hoi An, yang dalam bahasa Vietnam berarti “Pertemuan Damai”. Tapi sebelumnya, kota ini punya banyak nama:

  • Lamplo (dari saudagar Portugis) — dari kata Vietnam “Lan Pho” (Desa Terpencil)
  • Faifo (dari saudagar Eropa) — evolusi dari “Hai Pho” (Kota Laut)
  • Hoi An — sejak abad ke-19 hingga sekarang

Selama abad ke-17 dan 18, lebih dari 1.000 kapal asing datang ke Hoi An setiap tahun untuk berdagang. China menyumbang 70% dari total aktivitas perdagangan (itulah mengapa pengaruh China sangat kuat di arsitektur dan budayanya), diikuti oleh Jepang, Belanda, Portugis, dan lainnya.

Sayangnya, pada abad ke-19, Sungai Thu Bon mendangkal sehingga kapal-kapal besar tidak bisa masuk. Pelabuhan dipindahkan ke Da Nang. Hoi An yang dulu ramai perlahan menjadi kota hantu ekonomi —dan justru itulah yang menyelamatkannya dari pembangunan modern.

Sekarang, dengan populasi hanya sekitar 120.000 jiwa, Hoi An adalah salah satu kota kuno yang paling terawat di dunia.

Tips Praktis Sebelum Berangkat ke Hoi An

Transportasi ke Hoi An

DariJarakTransportasi TerbaikDurasiPerkiraan Biaya
Da Nang Airport30 kmTaksi/Grab/Gojek45-60 menit~250.000-350.000 VND (Rp 160-220rb)
Hue125 kmBus wisata atau Private car via Hai Van Pass3-4 jam~200.000-400.000 VND
Ho Chi Minh City800+ kmPesawat ke Da Nang + taksi1,5 jam (pesawat) + 1 jam (taksi)Cek promo maskapai

Saran saya. Jika datang dari Hanoi, terbang ke Da Nang (1,5 jam). Lalu naik taksi atau bus ke Hoi An. Jalan Da Nang – Hoi An sangat indah—Anda akan melewati pantai, pegunungan, dan desa-desa nelayan.

Waktu Terbaik Berkunjung

MusimWaktuSuhuCuacaKelebihanKekurangan
TerbaikFebruari – Mei22-30°CCerah, sedikit hujanLangit biru, bunga bermekaran, ideal untuk fotoLumayan ramai (tapi tidak ekstrem)
Panas & KeringJuni – Agustus28-35°CPanas terik, jarang hujanSepi, harga murah, cocok untuk beach time di An BangBisa sangat panas di siang hari (bawa topi!)
HujanSeptember – Januari20-28°CHujan sering, kadang banjir bandang (terutama Oktober-November)Harga sangat murah, pemandangan hijau suburResiko banjir di kota tua (periksa ramalan cuaca)

Rekomendasi saya April atau Mei. Cuaca sempurna, bunga-bunga mekar di taman, dan belum terlalu ramai seperti musim panas Eropa.

Berapa Hari di Hoi An?

DurasiCukup untuk…Saran Aktivitas
1 hariTidak cukup. Anda hanya akan terburu-buru dan stres.
2 hari 1 malamMinimal. Cukup untuk city tour, lentera malam, dan 1-2 atraksi.Hari 1: jalan-jalan kota tua + jembatan Jepang + lentera malam. Hari 2: pagi ke pantai An Bang, siang belanja, sore cabut.
3 hari 2 malamIdeal untuk kebanyakan traveler.Bisa tambah: kelas memasak Vietnam, excursion ke My Son Sanctuary (kota kuno Hindu), atau workshop membuat lentera.
4+ hariUntuk yang ingin relaksasi total.Bisa explore Da Nang, Marble Mountain, atau sekadar baca buku di kafe sepanjang hari.

Tiga Hal yang Mungkin Mengejutkan Anda

1. Hoi An Bisa Banjir di Musim Hujan

Saya tidak bercanda. Setiap bulan Oktober-November, saat hujan turun terus menerus, Sungai Thu Bon meluap dan air masuk ke kota tua. Kedalamannya bisa selutut hingga sepinggang orang dewasa.

Jangan panik penduduk lokal sudah sangat terbiasa. Mereka menggunakan perahu untuk beraktivitas, dan toko-toko tetap buka (barang dagangan diangkat ke rak tinggi). Justru ini menjadi pengalaman unik—berjalan di jalanan yang tergenang air, dengan lentera-lentera masih menyala di atas kepala.

Tapi jika Anda tidak ingin basah, hindari November.

2. Sebagian Kota Tua Masih Dihuni Keluarga yang Sama Selama 300 Tahun

Bangunan-bangunan kuno di Hoi An bukanlah museum yang kosong. Banyak yang masih dihuni oleh keluarga keturunan saudagar Tiongkok atau Jepang yang sama selama 10-15 generasi.

Beberapa rumah terbuka untuk umum (dengan tiket masuk), dan keluarga tersebut akan menyambut Anda, bercerita tentang sejarah rumahnya, dan menawarkan teh. Tan Ky House ( jalan Nguyen Thai Hoc nomor 101) adalah contoh terbaik—keluarga yang sama sudah tinggal di sana sejak abad ke-18!

3. Anda Bisa Belajar Membuat Lentera Sendiri

Selain belanja dan tailor, ada workshop membuat lentera tradisional. Anda akan belajar memotong sutra, membentuk rangka bambu, dan merangkai semuanya menjadi lentera warna-warni.

Biaya sekitar 150.000-250.000 VND (Rp 95-160rb), biasanya sudah termasuk semua bahan dan minuman. Hasilnya bisa Anda bawa pulang sebagai suvenir—jauh lebih bermakna daripada yang dibeli di toko.

Rekomendasi Art Gallery (workshop of lantern) di jalan Le Loi.

Hoi An Mengajarkan Kita Arti Melambat

Sobat traveler, saya akui — dunia modern bergerak sangat cepat. Kita selalu dikejar waktu, target, dan notifikasi. Tapi Hoi An adalah obat penawar dari semua itu.

Duduklah di kafe tepi sungai. Pesan segelas kopi vietnam dingin. Biarkan waktu berlalu tanpa Anda hitung. Lihat nelayan-nelayan tua membersihkan jala di sore hari. Dengarkan anak-anak bermain kejar-kejaran di jalanan cobblestone.

Dan ketika malam tiba dan ribuan lentera mulai menyala, Anda akan sadar Terkadang, hal terindah dalam hidup justru terjadi saat kita berhenti berlari dan membiarkan diri kita hanyut.

Jadi, apakah Anda akan segera memesan tiket ke Da Nang? Atau akankah Hoi An tetap menjadi “mimpi suatu hari nanti” di daftar keinginan Anda?

Saya tunggu cerita Anda di kolom komentar. Dan jangan lupa kirim foto lentera saat Anda di sana—saya suka melihat warna-warna pilihan yang berbeda dari setiap traveler.

Terima kasih sudah setia menemani perjalanan kita dari Ha Long, Hanoi, Sapa, hingga Hoi An. Masih ada destinasi Vietnam lain yang ingin saya ajak Anda jelajahi? Nantikan artikel selanjutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *